Serambi Gubuk Rumbia

Menumpah Ide, Mencurah Gagasan, Membuat Perubahan

Arsip untuk November, 2007

Suka Duka Jadi Pengusaha

Ditulis oleh benny2007 di/pada November 26, 2007

Jangan ada kekosongan dalam hidup kita, karena kekosongan bisa membinasakan.

Sebagai seorang entrepreneur, kedekatan dengan Tuhan menjadi hal yang tak bias dinafikan. Kedekatan dengan Tuhan meru pkan hal yang mutlak diperlukan. Ini wajar mengingat medan kerja seorang pengusaha yang demikian keras, penuh dengan tantangan, penuh kejutan, baik kejutan yang diharapkan maupun yang sama sekali tak kita inginkan . Dalam bisnis seringkali penuh ketidakpastian, kendati telah kita hitung secar matang semua rencana, telah dibuat presisi semua strategi, tetap saja hal-hal diluar dugaan seringkali terjadi.

Ada saat dimana segalanya berlangsung lancar sesuai rencana, bahkan lebih indah dari yang diharpkan. Seketika hatipun bergairah, mata berbinar, tubuh segar bugar, semangat bergelora, optimisme melambung dan segalanya seolah telah pati kita raih. Namun di episode lain, seringkali sebaliknya,. Ketika rencana telah dibentangkan, langkah pertama telah dilakukan, dunia seolah tak peduli. Jangan penghasilan yang kita harapkan, sekedar lirikan mata pelanggan pun tak kita dapatkan. Ketika berbagi upaya ditingkatkan, keadaan tetap tak bergem ing bahkan semakin jauh panggang dari api. Tinggal jalan sepi yang membentang dihadapan, penuh kehampaan, ketidak karuan. Kalau sudah begini, aduhai serasa mati kutu menjadi pengusaha.

Episode lainnya saat rencana telah berjalan sesuai yang diharapkan dan segalanya didepan mata. Tiba-tiba keadaan berubah 1000 derajat. Masalah datang bertubi-tubi, peluang menjadi problema. Melayang…

Dalam keadaan seperti ini, hanya Tuhan yang mampu menjawab berbagai pertanyyan yang terbersit dibenak kita. Kita hanya bersandar pada kekuasaanNya yang mampu membalikkan keadaan. Kita berharap ia akan memberikan pencerahan dibenak kita, mengucurkan ide ke pikiran kita. Disaat-saat tergelap bisnis kita, kita tersadar bahwa kita tak sendiri. Ada Dia yang bisa merubah segalanya. Yang kuasa mencampakkan strategi jitu menjadi konsep bisu yang lumpuh dan tak berdaya. Dan mampu mengyulap hal-hal yang kita anggap remeh menjadi juruselamat bisnis kita.

Sejatinya, bisnis seperti jalan kehidupan. Butuh energi besar, ketabahan besar, kesabaran dahsyat, dan kegigihan bathin yang menggugah dan membangkitkan. Spirit yang tak bisa kita dapatkan begitu saja, tak cukup dengan affirmasi, positivisme, tapi butuh ‘pencerahan’ dari spirit transendental. Dalam kondisi segelap apapun, dalam hidup maupun dalam bisnis kita, selalu ada secercah cahaya yang menyeruak masuk, menunggu kita untuk memantulkan dan membiaskannya menerangi seisi ruang dengan refleksi bathin yang jernih. Dengan nya kita mampu membuka tabir-tabir kesulitan hidup menjadi peluang kesuksesan. Itulah kuasa Tuhan, kuasa yang menghidupkan. Pertolongan yang membangkitkan yang tak bisa kita minta dalam kelalaian. Tapi mesti kita mohon dalam kepsarahan, kedekatan, keakraban dan kemesraan denganNya.

Pertolongan Tuhan tidak turun dengan abra kadabra, dengan sekedar affirmasi dan mantera tapi butuh kesungguhan mi’raj ruhani kita dalam menghadapNya. Orang yang dikabulkan do’anya sesungguhnya bukan karena dahsyatnya puitisasi do’a yang dibaca, melainkan karena ketulusan, kedekatan, keyakinan dan seringnya mengisi ‘daftar hadir’ disaat orang lain absen.

Dalam episode gelap kehidupan, hanya cahayaNya yang mampu membuka perenungan bathin, memberikan pencerahan dan menjadikan kita pribadi yang tangguh. Berdiri tegak diatas gelombang. Pada akhirnya, semoga sebaris do’a ini dipenuhi untuk kita.

Allahuma nawir qulubana bi nuuri hidayatika, kama nawartal ardha bi nuuri syamsika. Abadan, abadan.

Saung Panyawangan Tasikmalaya, 18 November 2007

Ditulis dalam Wirausaha | 3 Komentar »

Berdiri Tegak Diatas Gelombang

Ditulis oleh benny2007 di/pada November 19, 2007

Kehidupan sebenarnya adalah sekolah kearifan yang paling berguna. Sama seperti sekolah sebenarnya. Masalah yang datang dalam kehidupan adalah PR yang harus kita selesaikan. Godaan dan tantangan yang lebih hebat dari biasanya adalah ulangan umum, dan biasanya itu tandanya akan segera naik kelas. Bayangkan kapan kita akan naik kelas bila setiap ada persoalan kita lari?

(Inspirasi dari Gede Prama)

Kesulitan, kata yang mewakili sesuatu yang kehadirannya tak pernah kita harapkan. Semenjak bangun di pagi hari, dalam hati kita sudah berharap agar hari yang akan kita lalui bertaburkan kemudahan dan kelancaran dalam segala urusan kita. Sebisa mungkin kita menjauhi, bahkan terkadang kita berkelit dari kesulitan yang mungkin akan menimpa kita. Tak dapat disangkal bahwa sebagian banyak dari kita-atau-sebagaian banyak dari diri kita sering berharap bahwa kesulitan tak pernah hadir. Mungkin jauh dalam lubuk hati kita-andai saja bisa-kita ingin hidup ini hanya berisi satu kata;kemudahan. Atau setidaknya kalau itu tak bisa, kita ingin dalam kamus hidup kita dihapuskan satu entry kata;kesulitan.

Tapi sejatinya, hidup tidaklah selalu sejalan dengan keinginan kita. Hidup berjalan seimbang, ada kemudahan disatu sisi dan disisi lain ada kesulitan yang kita rasakan. Keduanya selalu datang berdampingan meski-dengan keterbatasan kita- seringkali hanya satu sisi kehidupan yang kita rasakan dalam suatu waktu. Acapkali terjadi, satu saat kita merasakan berbagi kemudahan berpihak pada kita, lalu beberapa saat kemudian kesulitan menimpa kita. Hidup ini pun pada akhirnya terkesan belang-belang; sulit-mudah-sulit-mudah-susah-gampang-gampang-susah, dan seterusnya. Dibutuhkan cara berpikir yang lebih tertata agar kita dapat merasakan kedua sisi kehidupan secara seimbang. Saat hidup kita dikaruniai berbagai kemudahan dan kelancaran, kita cenderung terlena dan lupa bahwa ada sisi lain sedang menimpa kita karena pikiran dan perasaan kita terfokus pada kemudahan-kemudahan dan akhirnya melahirkan kemanjaan. Sebaliknya pula, saat berbagai kesulitan menimpa, kita tak mampu merasakan kemudahan-disisi lainnya- yang sesungguhnya sedang diberikan Tuhan kepada kita.

Seringkali kita mendengar nasihat dari orang-orang terdekat kita saat kita ditimpa berbagai persoalan; “lihatlah sisi terangnya”, “ada hikmah dibalik semua ini”, “fokuslah pada hal positif”, dan sebagainya. Tapi betulkah demikian adanya, mari kita renungkan bersama!

Dalam perjalanan hidup yang saya alami, suka maupun duka, susah dan senang, sedih dan gembira sudah pernah saya rasakan. Saat segalanya terlihat serba mudah, optimisme saya melambung, asa dan harapan bangkit, serasa hidup berpihak pada kita. Dan saat berbagai problema mendera, seolah kita menjadi satu-satunya yang paling menderita. Saya sendiri, hingga beberapa saat kebelakang dalam hidup saya selalu bertanya pada diri, pada kehidupan, pada Tuhan dimana kemudahan dan hikmah itu saat berbagai masalah terjadi. Seringkali saya-dan juga Anda pastinya- hampir berpikir bahwa yang namanya kemudahan dalam kesulitan, hikmah, sisi terang, atau apapun sebutannya merupakan hal yang invisible bahkan impossible adanya.

Hingga pada suatu hari dalam masa remang-remang hidup saya, (saya sebut masa remang-remang sebab saat itu saya baru lepas dari persoalan besar, tapi belum sepenuhnya tuntas) saya merenungi dan akhirnya menemukan hal itu. Bahwa saat kita mengalami kesulitan dalam suatu hal, sebenarnya ada hal lain yang dipermudah untuk kita. Atau dalam kosakata yang lebih saya sukai; Saat Tuhan memberikan kita kesulitan, Dia sedang memudahkan kita untuk meraih hal lain. Sebagai ilustrasi, saya mencoba merenungi hal-hal berikut ini;

· Saat mengalami persoalan berat ditempat saya bekerja, saat itu Tuhan memudahkan saya untuk membuka usaha sendiri. Padahal sebelumnya saya telah mencoba berbagai upaya agar punya perusahaan sendiri, tapi tak pernah berhasil dan baru ketika mengalami persoalan ditempat kerja, segalanya menjadi teramat mudah.

· Saat kondisi bisnis saya berantakan, saya begitu pusing memikirkan nasib perusahaan yang tak jelas juntrungnya, relasi yang hilang kepercayaan, investasi yang amblas, harta benda yang ludes. Saya tak sadar sedikitpun bahwa saat itu Tuhan sedang mendekatkan saya pada seorang relasi yang lama tak pernah saya temui. Dialah yang memberikan kepercayaan penuh kepada saya untuk mengerjakan proyek usahanya.

· Saat kondisi finansial saya ambruk, Tuhan memperbaiki hubungan saya dengan keluarga.

· Saat saya mentok kehabisan ide untuk mengembangkan jangkauan usaha, tiba-tiba saja seorang kawan lama bersedia menjadi rekan bisnis saya. Padahal tak pernah terpikirpun niat sebelumnya untuk menjadikannya rekan bisnis.

· Sekali lagi saat bisnis saya yang lain gonjang-ganjing, Tuhan membukakan peluang usaha lain yang menjanjikan padahal sebelumnya setengah mati saya berusaha membuka usaha itu tapi selalu mentok.

Itulah sekelumit kisah saya. Saya yakin Anda pun pernah mengalaminya. Anda mengalami persoalan hidup, tidak tanggung-tanggung, bertubi-tubi sekaligus, bisnis hancur misalnya, kena PHK, modal hilang, harta ludes, utang menggunung, konflik dengan mertua dan sebagainya. Anda merasa saat itu Anda sedang mengalami kiamat sendirian. Maju kena mundur kena, apapun yang dikerjakan malah semakin memperburuk keadaan, hingga seolah diri terkurung dalam kotak gelap tanpa pintu ataupun jendela.

Dalam situasi tersebut, bila sedang Anda alami saat ini, renungkanlah, dalam kegelapan hidup ini hal apa yang sebelumnya Anda inginkan dan begitu sulit untuk diraih tiba-tiba saja menjadi mudah?PASTI ADA!

Saya paham ‘mencari hikmah’ tersebut bukanlah hal mudah. Apalagi disaat-sat tergelap dalam hidup kita. Saat ikiran dan perasaan kita rusuh, mencari hikmah tak lebih bagai mencari jarum dipadang pasir. Tapi bila Anda berhasil menemukannya, itulah yang akan meredakan kegelisahan hati kita, menghilangkan kecemasan, mengobati luka dan menyuburkan rasa syukur. Pencarian itu hanya bisa dilakukan bila kita bersedia-barang sejenak-menjernihkan pikiran. Ibarat melihat bayangan bulan di air, kita tentu saja tidak bisa menemukan bulan dengan mengaduk-aduk airnya. Ketenangan dan kejernihan adalah syarat utama bagi utuhnya bayangan bulan.

Pada akhirnya, semoga Anda tetap mampu berdiri tegak diatas gelombang. Dengan berbekal kedewasaan berpikir yang mampu menemukan dan mengungkap rencana indah Tuhan dibalik kegelapan hidup yang kita alami. Dan pada akhirnya, kembali kepada Gede Prama; “Kedamaian hanya akan hadir dalam pikiran yang mau memproduksi kedamaian, caranya; Rasa syukur, Rasa Cinta, Mengendalikan nafsu ingin menang”. Terimakasih but Gede Prama, dan Sukses untuk Anda!

Saung Panyawangan, 18 Nopember 2007

Ditulis dalam Wirausaha | Leave a Comment »