Serambi Gubuk Rumbia

Menumpah Ide, Mencurah Gagasan, Membuat Perubahan

Arsip untuk Juli, 2007

Betulkah dengan bersyukur kita menjadi Kaya?

Ditulis oleh benny2007 di/pada Juli 11, 2007

LA INSYAKARTUM LA AJIDANAKUM

Dulu sekali bila saya membaca sepenggal kalimat tersebut yang terbayang dipikiran adalah, kalau suatu hari saya mendapat uang maka saya harus mengucapkan Alhamdulilah. Seiring beranjaknya waktu dan banyaknya yang saya temukan dalam hidup, pemaknaan saya terhadap kalimat tersebut perlahan bergeser. Maka saya pun memiliki visualisasi baru dalam hal syukur; syukur bukan saja mengucap hamdalah, tapi juga berupaya sekuat tenaga agar rezeki yang didapat tersebut dibelanjakan dengan cara yang baik, untuk hal-hal yang baik. Keyakinan itu tertanam dibenak saya begitu lama, sehingga setiap apapun yang saya ingat bahwa itu nikmat dan karunia Tuhan, saya selalu berusaha menyalurkannya di jalan yang benar.

Hari demi hari berlalu. Waktu terus bergulir, apa yang saya dengar, pelajari, baca dan pahami juga semakin bertambah. Hari ini saya tiba pada kesimpulan baru yang lain lagi. Kalimat tersebut kurang lebih berarti, “kalau kamu bersyukur, niscaya Aku tambahkan kepadamu”. Baiklah, kita akan berbincang tentang pemaknaan saya terhadap konsep syukur menurut kacamata saya hari ini.

Bila kita cermati kalimat tersebut terdiri atas dua frase, dan saya akan berfokus pada frase yang kedua yang menyatakan bila kita bersyukur, niscaya nikmat yang ada pada kita akan bertambah. Kenapa bertambah, bukannya ditambah seperti pemahaman orang kebanyakan? Sejujurnya saya ingin mengajak anda untuk berpikir menjadi pribadi yang produktif dan tak bergantung kepada pihak lain. Kata bertambah bagi saya terdengar lebih aktif ketimbang kata ditambah yang terdengar lebih pasif. Kata bertambah menyiratkan telah terjadi sebuah proses, sebuah upaya memperbanyak, memperbesar yang dilakukan oleh pihak pertama. Pihak pertama berarti kita, atau Anda. Sedangkan kata ditambah menyiratkan telah terjadi upaya memperbanyak, memperbesar yang dilakukan oleh pihak lain, pihak lain itu bisa berarti orang lain, atu seperti kalusul ayat diatas, Tuhan. Ini bukan berarti bahwa saya mengajak anda untuk juga tidak bergantung kepada Tuhan, sama sekali tidak! Sebab apalah artinya kita berusaha kalau tak bersandar kepada tuhan yang jelas-jelas lebih tahu segalanya melebih dari kita, jelas itu sombong sekali. Tapi apapula artinya kita bergantung kepada Tuhan kalau kita sendiri tidak produktif?

Memang terdengar sedikit provokatif, tapi bila anda sudah membaca sejauh ini saya percaya anda sudah terbiasa. Kita memang tak bisa terus bergantung bahkan pada Tuhan. Bukankah Tuhanpun berfirman, -dalam iman islam yang saya yakini- bahwa Allah tak akan mengubah keadaan suatu kaum bila kaum itu tak pernah mau berupaya mengubah keadaan mereka sendiri? Jadi bagaimana kita akan ditambah nikmatnya kalau kita sendiri hanya diam terpaku? Baiklah, kita mungkin terlampau jauh masuk kedalam persoalan bertambah dan ditambah yang bukan inti permasalahan yang ingin saya angkat.

Inti permasalahannya adalah, bahwa dalam dimensi syukur, ternyata memang tak sekedar menyalurkan dijalan yang benar apalagi sebatas mengucap Alhamdulilah, tapi juga ada konsep jada/pertambahan atau pertumbuhan. Kata ajidanakum menyiratkan bahwa kalau memang bersyukur, nikmatnya pasti bertambah, pasti berkembang, dan bertambah itu melalui suatu proses yang dilakukan oleh kita, manusia. Dengan kata lalin, orang yang bersyukur adalah orang yang mendapat nikmat lalu nikmat itu disalurkan secara benar sehingga menjadi lebih banyak, bukannya berkurang. Lho?

Kita ambil analogi. Seandainya Anda adalah seorang ayah beranak tiga yang memberikan sejumlah uang berupa modal kepada anak-anak anda. Anak pertama, ia berterima kasih kepada anda lalu menghabiskan uang tersebut untuk konsumsi. Anak kedua, dia berterima kasih lalu menghabiskannya untuk menolong seorang temannya. Anak ketiga, ia berterima kasih dan mengelola modal itu dalam bentuk perusahaan sehingga memperoleh keuntungan, modalnya bertambah besar dan dengan labanya ia mampu membeli konsumsi, menolong teman, dan sebagainya. Nah menurut Anda, Anak yang manakah yang paling berterima kasih?

Tak jauh dari analogi diatas, syukur secara leksikal berarti Terima Kasih. Anak pertama mewakili orang yang diberi nikmat dan mengucapkan Alhamdulillah dan menghabiskannya tanpa sedikitpun kepedulian buat orang lain. Anak kedua adalah mereka yang berupaya untuk menyalurkan nikmat yang diterimanya di jalan yang benar. Dan anak ketiga adalah representasi mereka yang merasa bahwa nikmat adalah titipan Tuhan, sehingga ketimbang menghabiskannya dengan alasan apapun, mereka justru mengembangkannya sehingga kuantitas dan kualitasnya bertambah.

Saya tak bermaksud melakukan deviative interpretation berkaitan dengan makna syukur yang jelas sangat dalam. Mungkin bagi beberapa orang, pemaknaan yang saya lakukan menjadi terkesan materialis. Tapi ingat, saya sedang membicarakan bisnis dan uang dibuku ini, sesuatu yang bersifat materi, jadi wajar kalau kerangka yang dipakai adalah kerangka materi. Materi dalam kasus ini ditempatkan sebagai alat ukur fisik dari dimensi syukur yang memang tak bisa diukur secara fisik. Saya beranggapan bahwa, cara saya bersyukur adalah dengan mengoptimalkan penyaluran dan pemanfaatan rizki yang diberikan Tuhan, dan melipatgandakannya agar semakin besar(manfaatnya). Dengan dikembangkan, jelaslah bahwa klausa la ajidanakum berlaku.

Ditulis dalam Wirausaha | Leave a Comment »